Maiyahan bersama Cak Nun ( eMha Ainun Najib )

“Ditengah hiruk pikuknya kesibukan duniawi dan kurangnya mendekatkan diri kepada sang pencipta, aku tertetesi oleh sejuknya embun pagi itu yang menyentuh kalbuku, hatiku , dan juga tubuhku. Aku hampir saja meneteskan air mata dikala ku resapi alunan nada yang amat indah malam itu. Begitu jauhnya ku meninggalkanMu, begitu lamanya ku melupakanMu. Aku ingin kembali ya Rabb ”

Awalnya saya penasaran saja ketika teman saya menceritakan sebuah majelis pengajian yang terkesan lain. Pengajian yang ada bandnya, yang ada nyanyianya layaknya konser musik, yang (maaf) umpatan2 jorok tapi guyon🙂 . Pengajian itu sendiri cuma ada sekali dalam sebulan yaitu pada malam padhang bulan tanggal 17. Lalu pada bulan berikutnya saya ikut datang ke pengajian tersebut. Namanya pengajian Padhang Bulan yang digelar oleh Cak Nun( Emha Ainun najib ) di daerah Kasihan Bantul.

Tiba di lokasi pengajian pukul 20.00 kami langsung disuguhi alunan sholawatan. Tapi kok ada yang lain rasanya,, iringannya memakai gamelan dan alat-alat band. Agak aneh tapi saya mulai menikmatinya. Pukul 22.00 malam yang dinanti-nantikan jamaah datang. Cak Nun mulai duduk di panggung lesehan bersama putranya Noe Letto dan rombongannya. Dibuka dengan senyumnya yang hangat dan tanpa basa basi seperti ustad pembicara pada pengajian biasa. Hal yang dibahas pun bukan mengenai keislaman melainkan pemerintahan republik ini. kadang kadang tersisip kata kata yang sebenarnya jorok dan kasar tapi dengan pengucapan yang tepat menjadikan tak menyakitkan hati, justru membuat tawa para jamaah. Mengajak jamaah untuk lebih prihatin dan membangun republik ini menjadi bangsa yang benar. Di pertengahan malam giliran tampil Grup Kyai Kanjeng menghibur dengan lagu shalawatan agar jamaah tidak mengantuk.

Menjelang pukul 03.00 pagi giliran tampil Kiai haji Mustofa yang katanya sebagai perintis aliran MuhamadiNu yaitu penggabungan antara Muhammadiyah dan Nahdatul ulama. Dengan syair pantun dan puisi yang dibacakan secara kocak membuat jamaah. Para jamaah yang hadir sendiri berasal dari berbagai aliran dan organisasi. Bahkan orang dari agama lain pun juga boleh untuk hadir. Cak Nun nyebut jamaah pengajian tersebut sebagai jamaah Maiyah yang artinya kebersamaan. Dan yang lebih mengagetkan lagi ternyata forum pengajian ini sudah berlangsung lebih dari 17 tahun. Wowww luar biasa, sudah ada jauh lebih lama dari Aa’ Gym ataupun Yusuf Mansyur. Pengajian ditutup dengan sholawatan bersama – sama , memohon syafaat nabi Muhammad di akhir hari kelak.

Empat bulan sudah saya rutin mengikuti pengajian rutin ini dengan berbagai kesan yang mendalam setiap akhir pengajian. Tidak ada kata bosan, selalu saja ada yang baru di pengajian ini. Mulai dari narasumber seorang sutradara, tokoh PKI, Tamu undangan dari negri sebelah, bahkan Wayangan yang disisipkan di tengah tengah pengajian dengan dalang Mardi plenci yang pentas tanpa iringan lainnya melainkan dari mulutnya sendiri😀. Emha Ainun Najib sehatlah selalu , kami selalu butuh pencerahan dari anda!! Berjuang dan berkaryalah kami selalu bersama anda.

About Odi Udungz

Belum menemukan arah tujuan hidup dan berusaha terus mencari

Posted on Juni 23, 2011, in Pengalaman. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. sip, aku juga sering menyaksikan di tv. ADITV, dulu pas sma diajak tmnku tp g mau… kpn kpan tak ikut gabung…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: