Wayang Kulit : masih eksis walau ditelan waktu

Baru-baru ini tetangga di depan tempat kerja saya ada hajatan besar, anaknya baru saja khitanan. Kebetulan juga yang punya hajatan adalah terbilang orang yang berkecukupan. Banyak acara yang diselenggarakan mulai dari jathilan, campur sari sampai pada malam terakhir yaitu pagelaran wayang kulit.

Sabtu malam, 2 Juli 2011 di Sedayu Bantul, DI Yogyakarta

Pagelaran wayang malam ini begitu meriah, dengan dalang kondang Ki Entus Susmono dari Tegal. Dengar – dengar  untuk mendatangkan dalangnya sendiri sang empunya hajat menyiapkan uang 60 juta. Kebetulan pula pentas diadakan di tepi jalan raya provinsi sehingga sedikit membuat macet kendaraan yang melintas. Pukul 20.000 masyarakat yang ingin menonton sudah berbondong-bondong datang. Banyak juga yang datang dari desa sebelah menggunakan kendaraan bak terbuka. Memang sudah lama sekali jarang ada pentas wayang kulit. Seingat saya pun , sudah 7 tahun saya tidak menyaksikan pergelaran wayang kulit secara langsung.

Pentas dimulai dengan gending macapat syafaat yang dibawakan oleh para sinden yang suaranya begitu laras🙂 . Dan “Show” pun dimulai . Ki Entus Susmono sendiri merupakan dalang yang keluar dari pakem wayang mataraman ataupun surakarta. Dia juga mendapat julukan dalang edan. Hal yang membedakan dari dalang lain adalah dalam pementasannya gending gending yang dibawakan  dengan shalawatan, dan juga sering pisuh-pisuhan dengan wayangnya. Kata bapak yang menonton ” itu dalang kok ngawur seenaknya aja, keluar dari pakem mataraman”. Memang bagi pemerhati wayang terutama bagi kaum tua mereka agak sulit menerima ini. Tapi bagi yang tidak tahu ya menikmati dengan tertawa terpingkal – pingkal melihat banyolan wayang yang lucu. Apapun itu, mungkin bagi Ki Enthus cara ini diyakini agar wayang kulit tetap eksis sesuai perubahan jaman . Dan generasi muda juga tetap tertarik untuk menyaksikan wayang yang biasanya dianggap membosankan.

Menjelang larut malam suasana makin riuh dengan kehadiran Marwoto yang pandai mencuri tawa para penonton. Marwoto pun mengajak sinden – sinden guyon. Tetapi para sinden malah ganti mengerjai marwoto. Saya hanya melihat dari seberang jalan karena warnet yang saya jaga masih rame. Pukul 03.00 pagi sudah ada tanda goro – goro bakal terjadi. Dimulai dari perang wayang yang begitu heboh disertai gemerlap lampu warna – warni. Saya bergegas menuju tempat pergelaran. Suasana begitu sesak karena banyak yang masih menonton. Sesekali membidik tetapi karena jaraknya jauh sehingga hasilnya buruk. Baru saya teringat kata – kata bapak disamping saya kalo menonton wayang itu sebenarnya enak kalo dari belakang pakeliran, wayang diambil dari kata ayang ayang yang artinya bayangan. Jadi menonton wayang itu sebenarnya lebih baik dinikmati bayangannya. Lalu saya bergegas menuju belakang.  Suasana begitu sepi hanya beberapa orang yang menikmati dari sini. Masih teringat lagi kata dari bapak – bapak yang mengajak ngobrol saya, “jaman dulu itu kalo pentas wayang itu lampu blencongnya dari obor menggunakan minyak klentik, tujuannya agar wayang terasa lebih hidup bila terkena cahaya lampu blencongnya”.  Sayang blencongnya menggunakan lampu sorot, yang saya rasakan adalah agak silau. Langkah saya semakin dekat di depan sang dalang yang hanya dihalangi kain putih latar . Motif tatah sungging dari tiap wayang begitu cantik terlihat dari sini. Saya arahkan bidikan kamera saya hingga pentas berakhir.

Berikut ini hasil berburu saya pagi itu, namun hingga sekarang belum semua wayang yang saya ketahui namanya. Saya sudah mencoba mencocokkan dengan gambar dari internet tapi tetap saja sulit karena bentuknya hampir sama satu sama lain🙂

marwoto sedang ditanggap para sinden cantik

duel

Bimo , xxx :) , dan semar

Bimo , xxx🙂 , dan semar

angkuh atau anggun??

angkuh atau anggun??

dalangnya sableng wayangnya gendeng

dalangnya sableng wayangnya gendeng

indah bukan ??

indah bukan ??

tatah sungging, keindahan dari wayang

tatah sungging, keindahan dari wayang

Gunungan

Gunungan

Semar, tokoh paling bijak dalam pewayangan

Semar, tokoh paling bijak dalam pewayangan

The end, pentas selesai

The end, pentas selesai

About Odi Udungz

Belum menemukan arah tujuan hidup dan berusaha terus mencari

Posted on Juli 5, 2011, in fotografi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: