Kisah tentang Hujan, Arak, Susu, dan Madu

Sebentar lagi kita akan bertemu kembali dengan bulan ramadhan, bulan penuh hikmah dan ampunan.  Setahun telah berlalu dan Alhamdulilah kita bias bertemu kembali di bulan yang suci ini. Bulan untuk mensucikan hati dan jiwa kita kembali setelah banyak kemunafikan dan kekotoran yang kita lakukan setahun belakangan ini. Hal yang wajib dilakukan kaum muslim saat bulan ramadhan adalah berpuasa. Puasa pada hakikatnya adalah menjauhi apa yang biasa kita lakukan dan yang kita sukai serta melakukan kewajiban yang jarang kita lakukan.  Puasa dalam arti yang luas tidak hanya menahan lapar dan haus saja. Dahulu kala nenek moyang kita sebelum mengenal agama juga sudah menjalankan puasa. Dengan berpuasa  akan membuat kita lebih terarah dalam mencapai tujuan yang kita cari dan terhindar dari godaan-godaan yang akan menggagalkan tujuan kita.

Berkaitan dengan ibadah puasa khususnya untuk umat islam, puasa di bulan ramadhan sebenarnya hanyalah sebagai latihan dasar dalam mengendalikan nafsu dan emosi pada diri kita untuk bulan-bulan selanjutnya. Apabila tingkat kualitas ibadah kita setelah bulan ramadhan berlalu statis atau bahkan mengalami penurunan berarti kita gagal dalam pendidikan di bulan ramadhan. Ada metafora yang menarik berkaitan dengan ibadah umat muslim terhadap TuhanNya seperti yang pernah diungkapkan Emha Ainun Nadjib. Diantaranya meliputi sholat,puasa, zakat, dan haji.

Sholat diibaratkan seperti hujan. Proses terjadinya hujan yaitu air laut yang menguap karena terkena cahaya matahari secara terus menerus sehingga membentuk titik-titik air  yang akhirnya menyatu di awan . Titik-titik air tersebut berkumpul semakin besar dan hitam, tak kuat lagi menampung dan terjadilah hujan. Lalu yang terjadi setelah hujan reda yaitu tampak pelangi yang sangat indah. Dalam sholat pun demikian ketika kita merasa sangat intim dan berdua saja dengan Tuhan sang maha pencipta, seperti tak ada lagi jarak yang memisahkan kita dengan Allah. Terasa cahaya nur yang memancar dari dalam setiap doa-doa yang kita baca. Menentramkan jiwa kita, serasa sejenak hanyut melupakan segala masalah yang kita alami. Sehingga seusai sholat timbullah pelangi-pelangi. Tentunya hal demikian tidak langsung secara instan dapat kita rasakan, kecuali melalui proses layaknya hujan tadi.

Selanjutnya yaitu puasa. Seperti yang saya jelaskan di atas ,  maka puasa dapat diibaratkan seperti arak dalam hal ini yang diibaratkan adalah prosesnya bukan sifatnya yang dapat menyebabkan mabuk dan diharamkan. Dalam proses pembuatan arak , sari buah misalnya difermentasi untuk jangka waktu tertentu dan tejadi peragian yang mampu mengubah kandungan sari buah menjadi beralkohol dan berbeda sekali rasanya. Tidak bias instan langsung jadi tentunya, harus dilakukan dengan waktu tertentu. Demikian juga berpuasa, dalam islam sudah diperintahkan untuk berpuasa dari sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam. Dan dalam puasa bulan ramadhan juga sudah ditentukan waktunya dimana sebulan penuh diwajibkan untuk berpuasa.

Zakat merupakan salah satu rukun islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah seperti salat, haji, dan puasa  yang telah diatur secara rinci berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah. Zakat juga merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia. Setiap menjelang ramadhan berakhir kaum muslim berbondong-bondong untuk membayar zakat fitrah. Zakat berguna untukmensucikan harta kita, karena sebenarnya apa yang kita miliki datangnya dari Allah dan hak sodara-sodara kita kaum fakir miskin. Zakat diibaratkan seperti susu kambing. Pernahkah anda melihat kambing meminum susunya sendiri? Dan apakah yang akan terjadi? Kita tidak akan pernah tahu. Seekor kambing yang beranak jelas memberikan susunya kepada anak-anaknya agar dapat hidup dan tidak kelaparan. Sekalipun sangat kelaparan sang induk tidak akan pernah meminum susunya sendiri. Demikian pula dalam berzakat harus sampai ke tangan yang wajib menerimanya.  Tidak boleh zakat jatuh ke tangan yang salah.


Dan yang terakhir adalah Haji. Haji merupakan rukun islam yang terakhir dimana boleh dilakukan apabila mampu secara materi dan dirasa telah memenuhi rukun islam sebelumnya. Manisnya madu dapat menggambarkan tentang nikmatnya berhaji. Madu bias dibilang makanan, bias dibilang pula minuman. Sangat menyehatkan orang yang meminumnya. Dapat menawarkan dahaga dan dapat pula mengfenyangkan. Saat berhaji di tanah suci semua kegembiraan kita dalam beribadah terbayarkan. Apa yang kita lakukan selama ini berpenantian di sini, dengan menjadi haji yang mabrur. Hanya karena Allah semata, bukan karena tujuan lainnya.

Nah demikian yang dapat saya tulis semoga dapat member pencerahan kepada teman-teman semua dan lebih bersemangat beribadah di bulan ramadhan ini.kalo ada banyak salah kata dan cubluknya ilmu saya, saya mohon maaf. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.  Insyaallah tahun ini kita menang!!

*Emha ainun najib @macapat syafaat ,bantul 17/07/2011

*Wikipedia

*Pemikiran sejati

About Odi Udungz

Belum menemukan arah tujuan hidup dan berusaha terus mencari

Posted on Juli 23, 2011, in Sepak Bola. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: