Tanah Abang akhir pekan, kisah Bvlgari, Hugos, Dunhill dkk ada disini

Senja yang begitu damai, nampak wajah-wajah sumringah dan berseri berjalan sibuk lalu lalang. Maklum saja hari ini hari jumat, akhir pekan yang berarti besok harinya libur kerja bagi sebagian orang. Saya berjalan dengan gesitnya menyeberangi jalan yang agak padat.

Menuju mikrolet biru muda dari jalan Thamrin menuju pasar Tanah abang bersama rekan saya. Di sepanjang perjalanan nampak para pedagang makanan bersiap-siap menggelar lapaknya. Perlahan mikrolet melaju, melewati jembatan layang. Dari atas terlihat pemakaman yang amat luas terhimpit gedung-gedung tinggi dan terbatas oleh simpang simpang jalan raya. Semoga sampai kapanpun wilayah ini tak akan tergusur oleh kejamnya pembangunan walau terletak di tengah pusat kota yang strategis.

Tak terasa mikrolet yang saya tumpangi sudah sampai di daerah Tanah abang. Di depan pertigaan jalan yang agak sempit kami turun. Saya lalu melangkahkan kaki melewati jalan yang sempit dan semrawut dipenuhi kendaraan berlalu lalang. Di pinggirnya banyak lapak dengan aneka dagangan. Umumnya onderdil kendaraan bermotor dan sepeda. Tak lama kemudian. Orang-orang duduk dengan santa. Sepertinya tengah menikmati sore yang damai. Televisi menjadi hiburan yang gratis. Sesekali mereka tertawa oleh apa yang dilihatnya.

Tak lama kemudian saya menemukan sempalan jalan yang dari kejauhan terlihat megahnya pasar Tanah abang. Nampak seperti dibangun, catnya hijau ceria dan masih terlihat bersih. beberapa kaki melangkah, terlihat sederet toko yang menawarkan isi ulang parfum.

Saya kembali mengikuti jejak langkah kaki rekan saya menuju sebuah toko isi ulang parfum. Terdapat banyak botol-botol di etalase bertuliskan merk parfum premium kelas dunia. Bvlgari, Hugos, Dunhil, Aigner lengkap dengan variannya ternyata ada disini. Baunya pun bisa dikatakan 99% mirip dengan aslinya. Sang penjual lalu menuangkan air dari botol itu ke botol parfum kecil. Kemudian dicampurkan dengan alkohol agar encer. 10 ml biang parfum ini dijual seharga 10rb, cukup murah bukan?

Lantas kenapa begitu menjamurnya kios isi ulang parfum ini tidak pernah ditertibkan oleh pemerintah? Jawabannya singkat dan masuk akal. Parfum disini dijual tanpa merk dan tak sedikitpun memalsu parfum aslinya. Diibaratkan seorang peracik rokok yang bisa meniru rasa rokok tertentu dan dijual dengan merk sendiri. Jadi murni kahlian seorang peracik parfum untuk bisa meniru aroma parfum parfum premoum tersebut. Konon apabila peraciknya sedang bad mood saja aroma parfumnya akan kacau.

Setelah selesai mengunjungi kios isi ulang parfum tersebut, perjalanan dilanjutkan menaiki metromini yang usang dan berkarat. Membelah jalanan ibukota yang macet di akhir pekan. Menuju tempat yang saya rindukan seminggu sekali. Istirahat di rumah dan bersantai sepanjang hari sampai senin kembali menjemput.

About Odi Udungz

Belum menemukan arah tujuan hidup dan berusaha terus mencari

Posted on September 25, 2011, in Pengalaman. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: