Hidup di Republik Mimpi, Gunakan Hati Nurani

Bus yang saya tumpangi mulai melaju. Saya mulai duduk bersandar barang sekejap melepas lelah. Cukup beruntung hari itu mendapatkan tempat duduk.
Barangkali sudah terlalu capeknya saya setiap hari berdiri berdesak-desakan, berjam-jam menembus lautan kemacetan kendaraan modern ala kapitalisme. Jalan tol yang seharusnya bebas hambatan dan mempercepat waktu tempuh, seolah menjebak. Maju perlahan , kadang lebih lama terhenti. Mau mengeluh juga kepada siapa semua hanya merasa sependeritaan saja.

Setiap hari disandingi pemandangan yang amat ngeri. Mulai dari jembatan penyeberangan saja, diatasnya sudah dihuni manusia yang dengan pucatnya dan lemasnya menengadahkan tangan berharap sesumpal uang kertas bahkan koin receh terjatuh di genggaman tangannya. Di bus ekonomi khas masyarakat bawah, terjumpai pedagang dengan (maaf) segala kekurangan fisiknya. Pengamen yang seperti pengemis dan atau sebaliknya juga. Tak lama seorang bocah dengan kakaknya berjalan di dek bus yang sarat penumpang membagikan amplop kepada setiap penumpang. Di amplop itu ada tulisannya “Bapak, Ibu, Kakak sekalian mohon bantuannya untuk biaya hidup sehari-hari”. Bocah berumuran kelas sekolah dasar. Tentu dia tidak sekolah, pagi itu anak-anak yang lain tentunya sedang disekolah menikmati pendidikan. Masih dengan bangganya dia memakai kaos timnas Indonesia satu set dengan celananya merah membara. Di dadanya ada lambang garuda, di bagian belakang bertuliskan Indonesia.

Mulai bernyanyi menembangkan lagu bersama kakaknya yang memetik gitar ukulele. Dengan percaya dirinya bernyanyi lantang di hadapan khalayak ramai dalam bus itu. Mungkin dulu kita semasa kecil saja kalo disuruh guru bernyanyi didepan kelas agak malu-malu dan ada juga yang tidak berani. Seolah bocah ini tidak peduli apa yang terjadi pada dirinya, “Inilah negaraku Indonesiaku, apapun keadaanku aku akan tetap bangga terhadapmu”. Nasionalisme lugu dan jujur ala bocah kecil yang tetap bangga memakai lambang garuda di dadanya.

Sejatinya ia bisa menuntut akan nasibnya terhadap republik ini. UUD 1945 Pasal 34 ayat 1 : “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara…”
Dia beserta gerakan rakyat kaum bawah yang selalu bersamanya. Tetapi mana sempat mereka menuntut hak2 mereka itu, untuk makan saja ia harus turun di jalanan seharian. Hanya kita yang mampu menolong, kita yang masih memiliki nurani dan jiwa kemanusiaan. Tanpa karena tedeng aling-aling undang-undang atau semacamnya lah. Karena kita hidup di republik mimpi, mimpi bagi para pejabat untuk mengubah nasibnya menjadi semakin borjuis ketika mereka sedang di dalam tahta.

About Odi Udungz

Belum menemukan arah tujuan hidup dan berusaha terus mencari

Posted on Oktober 3, 2011, in Pengalaman. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: